Jumat, 05 Desember 2008

EPISTEMOLOGI DAN AL-WAHDAH AL-WUJUD

1. Epistemologi.

Ibn Arabi nama lengkapnya Muhyiddin Ibn Arabi, lahir di Murcia, Spanyol ( 560/1164 M ) dari suku al-Taiy, serumpun Arab al-Hatimi yang pada umumnya terdiri dari keluarga yang saleh. Ornga tuangnya adalah seorang Sufis yang gemar berkelana. Pada usia 8 tahun Ibn Arabi sudah merantau ke Lissabon unutk belajar agama dari seorang ulama, Syekh Abu Bakar bin Khalafselesai belajar Ulumul Qur'an dan Hukum Islam. Kemudia pindah ke Sevilla tempat pertemuan para sufi di Spanyol dan menetap selama 30 tahununtuk memperdalam hukum Islam dan Ilmu Kalam serta belajar Ilmu Tasawuf

Yang di makasud dengan Epistemologi dalam pandangan Ibn Arabi menurutnya Epistemologi harus diartikan sebagai tiori tentang bagaimana ia memperoleh ilmu pengetahuan didalam dan melalui mistik, bagaiman isi pengetahuan itu serta bagaimana gambaran jiwanya yang mengahayati pengalaman seperti itu.

Ibn Arabi membedakan pengetahuan dalam dua tipe:

1 . Al-Ma'rifat artinya pengetahuan dengan pengenalan

2. Al-Ilmu artinya sebagai pengetahuan intelektual atau pemahaman luas.

Dalam Epistemologi Ibn Arabi penilaian dikelompokkan kepada dua kelas utama yaitu:

1. Proposisi wajib meliputi :

a. Semua penilaan knseptual tampa dimasuki unsur pemahaman

b. Penilaian Apriori dari logika formal

c. Penilaian Esoterik ( Berawal dari indra )

2. Proposisi kontingensi yaitu penilaian yang berdasarkan pemahaman dan indra-indra secara serempak.

Dengan demikian nampaknya agak mudah untuk memahami al-Wahdatul Wujud menurut Ibn Arabi penyatuan mistik dengan Tuhan.

2. Al-Wahdah Al-Wujud

Al-Wahdah al-Wujud artinya kesatuan wujud faham ini adalah lanjutan dari faham Hulul ( pada pembahasan kelompok 6 ) dan dibawa oleh Muhyiddin Ibn Arabi, menurut Ahmad Amin dalam kitab Zubr al-Islam, 1969:162. arti istilah wahdah al-Wujud adalah sesungguhnya alam dan Allah adalah sesuatu yang satu.

Kemudian Ibrahim Hilal, Hlm 203. mengatakan arti dari wahdah al-wujud ialah sesungguhnya yang ada ini hanyalah satu, meskipun banyak ragam dan bentuknya. Alam dan Allah adalah dua bentuk dalam satu hakikat, Allah SWT. Alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Dan Muhammad Yusuf Musa membuat batasan wahdah al-wujud dengan, "tidak ada yang wujud selain wujud Allah dan sesungguhnya sekalian yang mungkin adalah manifestasi-Nya yang terdapat padanya sekalian yang mungkin adalah manifestasi-Nya yang terdapat pada seluruh alam ini tidak pada bagian atau sebagian yang lain. Maka tidaklah ada sekalian yang mungkin ini melainkan manifestasi Allah SWT. Seandainya Dia tidak ada. Maka tidaklah ada alam ini.

Dari keterangan ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa wahdah al-wujud adalah suatu faham yang mengakui hanya ada satu wujud dalam semesta ini yaitu satu wujud Tuhan. Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan.

Dalam faham Wahdah al-Wujud yang ada dalam faham hulul diubah oleh Ibn Arabi menjadi Khalq / ciptaan ( makhluk dan alam ) dan al-Haqq/ kebenaran ( Tuhan ) adalah dua aspek bagi tiap-tiap sesuatu. Aspek yang luar disebut al-Haqq. Dan aspek dalam Khalq

Faham ini timbul dari kenyakinan bahwa Allah – sebagaiman dterangkan dalam urian tentang hulul ingin melihat diri-Nya diluar diri-Nya, untuk itu dijadika-Nya alam ini, untuk itu. Alam ini adalah cermin bagi Tuhan. Kala Ia ingin melihat diri-Nya. Dia melihat pada alam, pada benda-benda yang ada pada alam, karena yang ada pada tiap-tiap benda itu terdapat sifat ketuhan. Dari sinilah timbul faham kesatuan atau al-wahdah al-wujud. Hal ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan disekelilingnya. Didalam tiap cermin itu ia melihat dirinya kelihatan banyak tetapi dirinya yang sebenarnya hamya satu, Ibn Arabi sebagaimana digambarkan tersebut didalam kitabnya Fusus al-Hikam,1967:68. mengatakan: "Wajah sebenarnya satu tetapi jika engkau perbanyak cermin ia menjadi banyak. " dalam bentuk keterangan lain, faham ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Makhluk dijadikan dan dan wujudnya tergantung pada wujud Tuhan sebagai sebab dari segala yang berwujud selain Allah. Yang berwujud selain Allah tidak akan mempunyai berwujud sekirany Allah tidak ada. Allahlah yang sebenarnya yang mempunyai wujud yang hakiki, ynag dijadikan hanya mempunyai wujud yang bergantung pada wujud diluar diri-Nya, yaitu Allah. Dengan demikian yang mempunyai wujud yang sebenarnya hanyalah Allah sedangkan wujud yang dijadikan ini pada hakikatnya tergantung pada wujud Allah, jadi yang dijadikan sebanarnya tidak mempunyai wujud dan yang mempunyai wujud mempunyai wujud senarnya hanyalah Allah. Dengan demikian pada hakikatnya hanya ada satu wujud yaitu wujud Allah.

Ringkasnya kata Taftazani, Ibn Arabi berpendapat bahwa wujud " hal yang wajib " adalah wujud Allah semata sedangkan keanekaragaman dan pluralisme hal yang ada tidak lain hanyalah hasil indera-indera lahiriyah dan akal budi manusia yang terbatas yang tidak mampu memahami ketunggalan zat segala sesuatu. Sebenarnya, substansi dan esensi segala sesuatu itu satu, yang menyebabkan jama' dalam sifat dan nama-Nya tampa bilangan ( yang tidak terhitung ) hanyalah karena wawasan, pandangan dan kecenderungan karena itu jika dipandang dari sudut esensinya, maka hal itu adalah Tuhan jika dipandang dari sudut sifat-sifatnya, maka hal itu adalah makhluk ( alam ) atau faham ini juga di kenal sebagain faham Al-Wahdah Al-Syuhud ( Kesatuan Penyaksian )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COMMENT HELP ME TO BE BEST